Rumah Sakit Internasional Bali (BIH) milik pemerintah Indonesia telah merekrut empat dokter Singapura sebagai bagian dari upayanya untuk menyediakan layanan medis kelas dunia.
“Operasional BIH mewakili konvergensi standar global, bakat Indonesia, dan keramahtamahan Bali,” kata Dewi Fankhuningdyah Fitriana, CEO PT Pertamedika Bali Hospital, perusahaan operator rumah sakit tersebut, pada hari Selasa.
Keempat dokter tersebut—Dr. Robert Lim, Dr. Francis Chin Kuok Choon, Dr. Patricia Kho Sunn Sunn, dan Dr. Tan Yew Oo—adalah spesialis kanker. Semuanya telah memperoleh lisensi untuk praktik di rumah sakit internasional tersebut, yang diharapkan dapat memulai layanan pada bulan Mei, menurut Fitriana.
Dia mencatat bahwa para ahli onkologi akan bekerja bersama spesialis Indonesia, termasuk ahli bedah vaskular Dr. Rio Marnoto, yang menghabiskan 24 tahun belajar dan praktik di Munich, Jerman.
BIH telah memulai operasi awal, menawarkan layanan dalam onkologi, kardiologi, perawatan darurat, klinik rawat jalan terpadu, radiologi dan radioterapi, serta pemeriksaan medis komprehensif.
Spesialisasi medis tambahan diharapkan akan diperkenalkan menjelang peresmian rumah sakit pada bulan Juni.
Terletak di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur Health, rumah sakit ini memiliki luas 67.000 meter persegi dan memiliki kapasitas 255 tempat tidur. Rumah sakit ini dilengkapi dengan delapan ruang operasi, 38 tempat tidur unit perawatan intensif (ICU), dan empat laboratorium. Fasilitas ini bertujuan untuk menjadi tujuan wisata medis dan rujukan bagi pasien domestik dan internasional.
Fitriana mengatakan rumah sakit ini diharapkan dapat meningkatkan ekonomi lokal dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia.
Menurut proyeksi Dewan Kawasan Ekonomi Khusus Nasional, pada tahun 2030, antara 4–8 persen penduduk Indonesia—sekitar 123.000 hingga 240.000 orang—yang sebelumnya mencari perawatan medis di luar negeri dapat memilih untuk menerima perawatan di dalam negeri, termasuk di KEK Sanur.
Pada tahun 2045, Dewan mengharapkan fasilitas tersebut dapat memberikan kontribusi penghematan devisa hingga Rp86 triliun (sekitar US$4,9 miliar), serta menghasilkan tambahan devisa sebesar Rp19,6 triliun.
